Oleh: Mohammad Rikaz Prabowo
A. Pendahuluan
Apa yang terpintas di pikiran anda
apabila mendengar kata filsafat? Tentu beragam pengertian akan timbul di dalam
benak orang. Filsafat sering disebutsebut sebagai induk segala ilmu. Filsafat
mengajak orang untuk senantiasa berpikir secara mendalam sampai ke dasarnya
(fundamental). Apakah hal itu benar? Sebenarnya mempelajari filsafat dalam
kerangka teoritis di dalam kelas, lazim dipelajari oleh banyak orang khususnya
yang pernah mengecap pendidikan di perguruan tinggi. Mengapa bisa demikian?
Hal ini dikarenakan konsep bahwa
filsafat adalah induk dari segala ilmu. Setiap ilmu yang ada di bumi ini,
berawal dari filsafat. Akan tetapi dalam perkembangannya bukan berarti filsafat
ditinggalkan begitu saja. Sebaliknya setiap ilmu pengetahuan itu harus berakar
dan mendekatkan diri pada filsafat sebagai solusi pemecahan masalahnya. Oleh
sebab itu muncullah filsafat ilmu sebagai kecabangan dari filsafat. Objek
kajian dari filsafat ilmu ialah ilmu pengetahuan itu sendiri dalam berbagai
segi dan problematikanya.
Ilmu pengetahuan yang dipelajari dan
macam ragam jenisnya dewasa ini, tidak dapat terlepas dari filsafat dan
filsafat ilmu. Satu kesatuan antara „filsafat - filsafat ilmu - ilmu
pengetahuan‟ saling
mengisi dan berkaitan satu sama lain. Untuk itu tulisan ini disusun mencari
gambaran seperti apa hubuangan antara ketiga hal tersebut. Sehingga akan
diketahui mengapa para pembelajar, baik dosen maupun mahasiswa tidak dapat
melepaskan dirinya dari filsafat. Malah justru harus semakin mendekatkan diri
pada filsafat sebagai metode berpikir ilmiahnya.
B. Pembahasan
1. Apa itu Filsafat?
Apa yang pertama kali terpintas di
pikiran manusia ketika pertama kali mendengar kata filsafat? Dapatkan orang
menentukan apa definisi dari filsafat itu? Bagi mereka yang dapat menjawabnya
terkadang juga masih timbul lagi beberapa pertanyaan. Misal, sebenarnya apa
yang dipelajari dalam filsafat itu? Bahkan, mereka yang pernah mempelajarinya
sebagai salah satu mata kuliah di perguruan tinggi, juga masih penuh dengan
banyak pertanyaan terkait filsafat. Seperti, mengapa filsafat begitu membuat
pusing kepala? atau, mengapa dahulu kita wajib mempelajari filsafat?
Filsafat memang berangkat dari
pertanyaan-pertanyaan yang seakan tiada habisnya. Selama masih ada yang belum
diketahui, pertanyaan-pertanyaan akan selalu muncul. Harun Nasution
mengungkapkan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai berpikir menurut tata
tertib dengan bebas dan dengan sedalam-dalamnya, sehingga sampai ke dasar suatu
persoalan. Sedangkan
Musa Asy‟ari
menulis filsafat adalah berpikir bebas, radikal, dan berada pada dataran makna.
(Muslih, 2016: 1).
Pengertian filsafat dapat juga
ditinjau dari empat segi yakni: pertama, dari
segi semantik (tata bahasa) bahwa filsafat berasal dari bahasa arab
“falsafah”,
yang sebenarnya juga berasal dari bahasa Yunani, philosophia. Kata philo berarti
cinta, dan sophia berarti
kebijaksanaan atau hikmah. Sehingga dengan demikian orang yang mempelajari
filsafat dapat menjadi orang yang bijaksana, arif, dan dapat menyelesaikan
masalah-masalah praktis. Kedua, dari
segi praktis, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir.
Berfilsafat berarti berpikir. Setiap orang pasti
berpikir. Tokoh-tokoh seperti William Ernest Hocking dan Max Rosenberg
mengemukakan bahwa setiap manusia adalah filsuf. Sebab setiap orang yang
berpikir adalah berfilsafat, dan mereka yang berfilsafat adalah filsuf. Akan
tetapi Richard Taylor berpendapat bersebrangan, meskipun setiap orang berpikir
dan mempunyai pendapat-pendapat, tetapi hanya sedikit yang memiliki sesuatu
konsepsi filsafat dan lebih sedikit lagi yang mempunyai sesuatu pengertian
metafisika.
Ketiga,
segi umum dimana
filsafat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang menyelediki hakekat segala
sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Mencari hakikat atau intisari dari segala
sesuatu yang ada ini. Keempat, segi
khusus dimana pengertian filsafat sebenarnya dipengaruhi berbagai faktor
seperti waktu, keadaan, dan orang. Segi ini akhirnya memunculkan aliranaliran
filsafat seperti rasionalisme, materalisme, empirisme, idealisme dan lain
sebagainya. (Waris, 2014: 3-4)
Franz Magnis Suseno mengungkapkan
filsafat dapat dipandang sebagai usaha manusia untuk menangani
pertanyaan-pertanyaan fundamental terkait masalah-masalah teoritis yang
dihadapi manusia, secara bertanggungjawab. (Suseno, 1992:19) Banyaknya
pengertian definisi akan filsafat sebanding dengan banyaknya para filsuf di
dunia ini sejak masa Yunani Kuno, seperti Socrates-Plato-Aristoteles hingga
filsuf masa kontemporer seperti yang di atas. Masing-masing filsuf dapat
mendefinisikan sendiri apa itu filsafat.
Meskipun begitu, pengertian filsafat
dengan ilmu filsafat sebenarnya tidak sama. Ilmu Filsafat adalah sebuah kajian
yang mendalam mengenai filsafat sebagai sebuah ilmu dari berbagai sudut
pandang: obyek apa yang dipelajari, ruang lingkup filsafat tersebut sebagai
sebuah ilmu, masalahmasalah apa yang dibahas di dalamnya, dan bagaimanakan cara
pemecahan masalah-masalah yang ada (Rai Utama: 2013: 73).
Sebagai pengetahuan yang teoritis,
filsafat juga dekat dengan teori-teori pendidikan. Dewey mengungkapkan filsafat
dipandang sebagai teori umum mengenai pendidikan (general theory of education),
dan filsafat juga dipandang sangat berperan penting dalam membangun teori
pendidikan (Soelaiman, 2013: 81). Meskipun begitu, agar lebih mudah
mendefinisikannya, filsafat memiliki ciri-ciri.
Sebanyak apapun definisinya,
ciri-cirinya dapat ditentukan dan inilah yang menjadi identitas dari filsafat.
Nur A. Fadhil Lubis mengungkapkan ada tiga ciri dari filsafat yang dapat
diterima oleh berbagai filsuf, yakni: (2015: 8)
a.
Universal,
maksudnya ialah menyeluruh, yaitu pemikiran yang luas dan dalam berbagai aspek.
b.
Radikal,
yaitu pemikiran yang dalam, mendasar sampai kepada hasil yang fundamental dan
essensial.
c.
Sistematis,
yaitu mengikuti pola dan metode berpikir yang runtut, logis, meskipun
spekulatif.
Sedangkan Jujun S. Suriasumantri
memasukkan ciri-ciri di atas dalam tiga karakteristik dalam berpikir filsafat
yang ia juga turut utarakan yakni menyeluruh, mendasar, dan spekulatif dimana
penjelasannya juga tidak jauh berbeda (2007: 20-22).
Beberapa penulis (filsuf) lain juga
menambahkan ciri-ciri lain dari filsafat di luar ciri-ciri utamanya. Pertama, yakni deskriptif menguraikan
terperinci tentang sesuatu, menjelaskan mengapa sesuatu berbuat begitu. Kedua, kritis dimana banyak
mempertanyakan segala sesuatu (termasuk hasil filsafat), tidak menerima begitu
saja apa yang terlihat sepintas yang dikatakan dan yang dilakukan masyarakat. Ketiga, analisis yaitu mengulas dan
mengkaji secara rinci dan menyeluruh sesuatu. Evaluatif, dikatakan juga normatif, maksudnya upaya sungguh-sungguh
untuk menilai dan menyikapi segala persoalan yang dihadapi manusia. Spekulatif, yaitu upaya akal budi
manusia yang bersifat perekaan, penjelajahan, dan pengandaian dan tidak
membatasi hanya pada rekaman indera dan pengamatan lahiriah (Lubis, 2015: 9).
Dalam kajiannya, obyek dalam filsafat
dibagi menjadi dua yakni objek material dan objek formal. Louis Kattsoff
menyebutkan bahwa obyek filsafat sangat luas, segala pengetahuan manusia serta
segala sesuatu yang ingin diketahui manusia. Sedangkan obyek formalnya ialah
mencari keterangan sedalam-dalamnya tentang obyek material filsafat, baik yang
telah ada atau akan ada (Waris, 2014: 7).
Karena filsafat adalah kajian yang
sangat luas, maka filsafat pun memiliki cabang-cabangnya yang tercakup dalam
tiga segi, yakni:
(Suriasumantri, 2007: 32).
a.
Logika,
apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah
b.
Etika,
mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk
c.
Estetika,
bagaimana yang termasuk indah dan seperti yang termasuk jelek.
Dalam perkembangannya cabang-cabang
filsafat di atas kemudian bertambah lagi menjadi:
a.
Metafisika,
teori tentang ada, hakikat keberadaan zat, tentang hakikat pikiran serta kaitan
antara zat dan pikiran
b.
Politik,
kajian mengenai organisasi sosial/pemerintahan yang ideal.
Demikianlah pengantar singkat tentang
apa itu filsafat dan ciri-ciri serta cabang-cabang dalam filsafat secara garis
besar. Cabang-cabang filsafat itu sendiri nantinya akan berkembang menjadi
bidang kajian yang lebih spesifik, seperti filsafat ilmu yang akan dibahas pada
bagian selanjutnya. Filsafat adalah ilmu dinamis yang telah bertahan
berabad-abad dan terus berkembang.
Immanuel Kant yang hidup di era kritisisme mengungkapkan bahwa fungsi filsafat adalah untuk menundukkan akal budi manusia itu sendiri di hadapan pengujian kritis (Acton, 2003: 7). Sedangkan Ludwig von Wittgenstem mengungkapkan tugas utama filsafat bukanlah menghasilkan sesusun pernyataan filsafati, melainkan menyatakan sebuah pernyataan sejelas mungkin. (Suriasumantri, 2007: 30).
Seperti yang telah penyusun utarakan di paragraf kedua, bahwa filsafat berangkat dari banyak pertanyaan-pertanyaan. Bahwa pertanyaan-pertanyaan filsafat adalah pertanyaan yang sangat logis dan fundamental, dan pada akhirnya khas menjadi pertanyaan yang sangat umum. Ciri-ciri di atas berasal dari kenyatan bahwa tujuan umum penyelidikan dalam filsafat adalah untuk mencapai gambaran lengkap, konsep realita, yang menyeluruh dan dapat diterima sebagai kebenaran (Lubis, 2015: 11).
Bersambung...

Posting Komentar