Filsafat, Filsafat Ilmu dan Ilmu Pengetahuan (Bagian 1/2)

Oleh: Mohammad Rikaz Prabowo

 

            A. Pendahuluan

Apa yang terpintas di pikiran anda apabila mendengar kata filsafat? Tentu beragam pengertian akan timbul di dalam benak orang. Filsafat sering disebutsebut sebagai induk segala ilmu. Filsafat mengajak orang untuk senantiasa berpikir secara mendalam sampai ke dasarnya (fundamental). Apakah hal itu benar? Sebenarnya mempelajari filsafat dalam kerangka teoritis di dalam kelas, lazim dipelajari oleh banyak orang khususnya yang pernah mengecap pendidikan di perguruan tinggi. Mengapa bisa demikian?

Hal ini dikarenakan konsep bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu. Setiap ilmu yang ada di bumi ini, berawal dari filsafat. Akan tetapi dalam perkembangannya bukan berarti filsafat ditinggalkan begitu saja. Sebaliknya setiap ilmu pengetahuan itu harus berakar dan mendekatkan diri pada filsafat sebagai solusi pemecahan masalahnya. Oleh sebab itu muncullah filsafat ilmu sebagai kecabangan dari filsafat. Objek kajian dari filsafat ilmu ialah ilmu pengetahuan itu sendiri dalam berbagai segi dan problematikanya.

Ilmu pengetahuan yang dipelajari dan macam ragam jenisnya dewasa ini, tidak dapat terlepas dari filsafat dan filsafat ilmu. Satu kesatuan antara „filsafat - filsafat ilmu - ilmu pengetahuan‟ saling mengisi dan berkaitan satu sama lain. Untuk itu tulisan ini disusun mencari gambaran seperti apa hubuangan antara ketiga hal tersebut. Sehingga akan diketahui mengapa para pembelajar, baik dosen maupun mahasiswa tidak dapat melepaskan dirinya dari filsafat. Malah justru harus semakin mendekatkan diri pada filsafat sebagai metode berpikir ilmiahnya. 

 

 

 B. Pembahasan

1. Apa itu Filsafat?

Apa yang pertama kali terpintas di pikiran manusia ketika pertama kali mendengar kata filsafat? Dapatkan orang menentukan apa definisi dari filsafat itu? Bagi mereka yang dapat menjawabnya terkadang juga masih timbul lagi beberapa pertanyaan. Misal, sebenarnya apa yang dipelajari dalam filsafat itu? Bahkan, mereka yang pernah mempelajarinya sebagai salah satu mata kuliah di perguruan tinggi, juga masih penuh dengan banyak pertanyaan terkait filsafat. Seperti, mengapa filsafat begitu membuat pusing kepala? atau, mengapa dahulu kita wajib mempelajari filsafat?

Filsafat memang berangkat dari pertanyaan-pertanyaan yang seakan tiada habisnya. Selama masih ada yang belum diketahui, pertanyaan-pertanyaan akan selalu muncul. Harun Nasution mengungkapkan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai berpikir menurut tata tertib dengan bebas dan dengan sedalam-dalamnya, sehingga sampai ke dasar suatu persoalan. Sedangkan

Musa Asy‟ari menulis filsafat adalah berpikir bebas, radikal, dan berada pada dataran makna. (Muslih, 2016: 1).

Pengertian filsafat dapat juga ditinjau dari empat segi yakni: pertama, dari segi semantik (tata bahasa) bahwa filsafat berasal dari bahasa arab

“falsafah”, yang sebenarnya juga berasal dari bahasa Yunani, philosophia. Kata philo berarti cinta, dan sophia berarti kebijaksanaan atau hikmah. Sehingga dengan demikian orang yang mempelajari filsafat dapat menjadi orang yang bijaksana, arif, dan dapat menyelesaikan masalah-masalah praktis. Kedua, dari segi praktis, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir.

Berfilsafat berarti berpikir. Setiap orang pasti berpikir. Tokoh-tokoh seperti William Ernest Hocking dan Max Rosenberg mengemukakan bahwa setiap manusia adalah filsuf. Sebab setiap orang yang berpikir adalah berfilsafat, dan mereka yang berfilsafat adalah filsuf. Akan tetapi Richard Taylor berpendapat bersebrangan, meskipun setiap orang berpikir dan mempunyai pendapat-pendapat, tetapi hanya sedikit yang memiliki sesuatu konsepsi filsafat dan lebih sedikit lagi yang mempunyai sesuatu pengertian metafisika.

Ketiga, segi umum dimana filsafat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang menyelediki hakekat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Mencari hakikat atau intisari dari segala sesuatu yang ada ini. Keempat, segi khusus dimana pengertian filsafat sebenarnya dipengaruhi berbagai faktor seperti waktu, keadaan, dan orang. Segi ini akhirnya memunculkan aliranaliran filsafat seperti rasionalisme, materalisme, empirisme, idealisme dan lain sebagainya. (Waris, 2014: 3-4)

Franz Magnis Suseno mengungkapkan filsafat dapat dipandang sebagai usaha manusia untuk menangani pertanyaan-pertanyaan fundamental terkait masalah-masalah teoritis yang dihadapi manusia, secara bertanggungjawab. (Suseno, 1992:19) Banyaknya pengertian definisi akan filsafat sebanding dengan banyaknya para filsuf di dunia ini sejak masa Yunani Kuno, seperti Socrates-Plato-Aristoteles hingga filsuf masa kontemporer seperti yang di atas. Masing-masing filsuf dapat mendefinisikan sendiri apa itu filsafat. 

Meskipun begitu, pengertian filsafat dengan ilmu filsafat sebenarnya tidak sama. Ilmu Filsafat adalah sebuah kajian yang mendalam mengenai filsafat sebagai sebuah ilmu dari berbagai sudut pandang: obyek apa yang dipelajari, ruang lingkup filsafat tersebut sebagai sebuah ilmu, masalahmasalah apa yang dibahas di dalamnya, dan bagaimanakan cara pemecahan masalah-masalah yang ada (Rai Utama: 2013: 73).

Sebagai pengetahuan yang teoritis, filsafat juga dekat dengan teori-teori pendidikan. Dewey mengungkapkan filsafat dipandang sebagai teori umum mengenai pendidikan (general theory of education), dan filsafat juga dipandang sangat berperan penting dalam membangun teori pendidikan (Soelaiman, 2013: 81). Meskipun begitu, agar lebih mudah mendefinisikannya, filsafat memiliki ciri-ciri.

Sebanyak apapun definisinya, ciri-cirinya dapat ditentukan dan inilah yang menjadi identitas dari filsafat. Nur A. Fadhil Lubis mengungkapkan ada tiga ciri dari filsafat yang dapat diterima oleh berbagai filsuf, yakni: (2015: 8)

a.         Universal, maksudnya ialah menyeluruh, yaitu pemikiran yang luas dan dalam berbagai aspek.

b.        Radikal, yaitu pemikiran yang dalam, mendasar sampai kepada hasil yang fundamental dan essensial.

c.         Sistematis, yaitu mengikuti pola dan metode berpikir yang runtut, logis, meskipun spekulatif. 

Sedangkan Jujun S. Suriasumantri memasukkan ciri-ciri di atas dalam tiga karakteristik dalam berpikir filsafat yang ia juga turut utarakan yakni menyeluruh, mendasar, dan spekulatif dimana penjelasannya juga tidak jauh berbeda (2007: 20-22).

Beberapa penulis (filsuf) lain juga menambahkan ciri-ciri lain dari filsafat di luar ciri-ciri utamanya. Pertama, yakni deskriptif menguraikan terperinci tentang sesuatu, menjelaskan mengapa sesuatu berbuat begitu. Kedua, kritis dimana banyak mempertanyakan segala sesuatu (termasuk hasil filsafat), tidak menerima begitu saja apa yang terlihat sepintas yang dikatakan dan yang dilakukan masyarakat. Ketiga, analisis yaitu mengulas dan mengkaji secara rinci dan menyeluruh sesuatu. Evaluatif, dikatakan juga normatif, maksudnya upaya sungguh-sungguh untuk menilai dan menyikapi segala persoalan yang dihadapi manusia. Spekulatif, yaitu upaya akal budi manusia yang bersifat perekaan, penjelajahan, dan pengandaian dan tidak membatasi hanya pada rekaman indera dan pengamatan lahiriah (Lubis, 2015: 9).

Dalam kajiannya, obyek dalam filsafat dibagi menjadi dua yakni objek material dan objek formal. Louis Kattsoff menyebutkan bahwa obyek filsafat sangat luas, segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia. Sedangkan obyek formalnya ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya tentang obyek material filsafat, baik yang telah ada atau akan ada (Waris, 2014: 7).

Karena filsafat adalah kajian yang sangat luas, maka filsafat pun memiliki cabang-cabangnya yang tercakup dalam tiga segi, yakni:

(Suriasumantri, 2007: 32).

a.         Logika, apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah

b.        Etika, mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk

c.         Estetika, bagaimana yang termasuk indah dan seperti yang termasuk jelek.

Dalam perkembangannya cabang-cabang filsafat di atas kemudian bertambah lagi menjadi:

a.         Metafisika, teori tentang ada, hakikat keberadaan zat, tentang hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran

b.        Politik, kajian mengenai organisasi sosial/pemerintahan yang ideal. 

Demikianlah pengantar singkat tentang apa itu filsafat dan ciri-ciri serta cabang-cabang dalam filsafat secara garis besar. Cabang-cabang filsafat itu sendiri nantinya akan berkembang menjadi bidang kajian yang lebih spesifik, seperti filsafat ilmu yang akan dibahas pada bagian selanjutnya. Filsafat adalah ilmu dinamis yang telah bertahan berabad-abad dan terus berkembang.

Immanuel Kant yang hidup di era kritisisme mengungkapkan bahwa fungsi filsafat adalah untuk menundukkan akal budi manusia itu sendiri di hadapan pengujian kritis (Acton, 2003: 7). Sedangkan Ludwig von Wittgenstem mengungkapkan tugas utama filsafat bukanlah menghasilkan sesusun pernyataan filsafati, melainkan menyatakan sebuah pernyataan sejelas mungkin. (Suriasumantri, 2007: 30).

Seperti yang telah penyusun utarakan di paragraf kedua, bahwa filsafat berangkat dari banyak pertanyaan-pertanyaan. Bahwa pertanyaan-pertanyaan filsafat adalah pertanyaan yang sangat logis dan fundamental, dan pada akhirnya khas menjadi pertanyaan yang sangat umum. Ciri-ciri di atas berasal dari kenyatan bahwa tujuan umum penyelidikan dalam filsafat adalah untuk mencapai gambaran lengkap, konsep realita, yang menyeluruh dan dapat diterima sebagai kebenaran (Lubis, 2015: 11).

Bersambung...

 

0/Post a Comment/Comments