Menurut
Jonathan Haidt dalam buku The Righteous Mind, siapa pun yang
menghargai kebenaran harus berhenti memuja nalar. Penalaran berevolusi
bukan untuk membantu kita menemukan kebenaran, melainkan untuk membantu kita
terlibat dalam perdebatan, upaya membujuk, dan manipulasi dalam konteks diskusi
dengan orang lain."
Pernyataan
Haidt tersebut seolah menjadi muara dari buku Batas Nalar karya Donald
B. Calne ini. Calne menggumamkan kegelisahannya di halaman awal buku ini: "Jika
kita berpikir banyak, apakah kita akan bertindak lebih baik?" Sebuah pertanyaan
bernada menggugat dan mempertegas bahwa nalar tidak dapat menentukan arah dan
tujuan manusia.
Kegelisahan
Donald B. Calne, sebagai seorang neurolog yang sering menjumpai perilaku
disorders pada lingkungan sosialnya, memacunya untuk terus-menerus mencari
jawaban tentang nalar. Sesuai dengan profesinya, sebagai Direktur
Neurodegenerative Disorder Centre, Calne mencari jawaban ini melalui pengamatan
terhadap neuron dan otak manusia, dalam perspektif teoretik biologi
evolusioner.
Belakangan
ini, kita terlalu sering menyaksikan betapa banyak orang pintar dan cerdas yang
goncang kejiwaannya, narasi-narasi yang disemburkan di media sosial, terlebih
soal kekuasaan dan dukungan politik, seakan meneguhkan pendapat Calne, bahwa
nalar adalah perkakas biologis yang berkembang secara evolusioner, yang
semestinya bertugas menjawab pertanyaan 'bagaimana' bukan 'mengapa'. Nalar merupakan
fasilitator, bukan inisiator.
Nalar
kita gunakan untuk mendapatkan apa yang kita mau, bukan untuk menentukan apa
yang kita mau. Akhirnya. nalar tak
menjamin kita lebih beradab dan baik.
Berbeda
dengan moral dan nurani yang bertautan dengan hal-hal yang seharusnya dan
diinginkan, terpaut dengan emosi dan perintah budaya. Nurani dan emosi
mendorong kita karena memuaskannya akan membawa kebahagiaan, dan mengabaikannya
akan menimbulkan kekecewaan. Kebudayaan dapat mengaitkan tujuan-tujuan dengan
nurani dan emosi, dan keduanya memunculkan motivasi. Nalar jauh dari gelora
hasrat manusia, sedangkan nurani berkait erat dengan hasrat, kepuasan dan
kebahagiaan.
Di
buku ini, Calne menunjuk bagaimana fakta historis tampilnya era Enlightment di
Eropa pada abad ke-17 dan ke-18, di saat yang tak terpaut jauh dari era
kebangkitan nalar tersebut, abad ke-19, justru para cendekiawan Jerman yang
paling awal memeluk ideologi Nazi, Wagner dan Nietzsche adalah dari sekian
banyak perintis itu, termasuk tokoh perguruan tinggi, golongan terdidik, ahli
hukum dan dokter.
Kemajuan
ini diiringi dengan perubahan sosial-politik di Eropa, di mana nalar dan
rasionalitas mendapat tempat yang makin tinggi dalam kehidupan bernegara dan
bermasyarakat, kepercayaan dan harapan semakin meningkat bahwa sains dan nalar
mampu melenyapkan kemiskinan, kebodohan, dan kekejaman di dunia.
Namun,
Calne menilai bahwa harapan yang digantungkan pada nalar terlalu berlebihan.
Meletusnya perang dunia dan krisis ekonomi berulang-ulang menjadi bukti
keterbatasan nalar dalam menjalankan peranan sebagai ’dewa penyelamat.’ Gerakan
menjauhi nalar secara berangsur mulai tampil kembali ke panggung sejarah.
Bandul sejarah kembali ke titik yang berlawanan. Bagi Calne, keterbatasan bukan
hanya pada sains, tapi juga pada dunia akademis secara umum.
”Bahwa
kekuatan nalar betul-betul merupakan kemampuan manusia yang nyata, jelas, dan
tidak-boleh-tidak bekerja dalam hampir semua aspek kehidupannya. Tapi nalar
tidak bisa memberi atau mengendalikan tujuan-tujuan yang terkait dengannya.”
Tulis Calne
Sejalan
dengan itu, YN. Harari juga menulis bahwa manusia dengan nalar yang dimilikinya
memang tak pernah lelah memamerkan keistimewaan-keistimewaannya, meneguhkan
superioritasnya dari makhluk-makhluk lain, dan dengan congkak mendaulat diri
sebagai homo sapiens (manusia bijak), setelah sebelumnya mereka berevolusi dari homo rudolfensis (manusia dari Danau
Rudolf), homo ergaster (manusia bekerja) dan mengasuh spesies-spesies baru
lainnya.
Menurut
Harari, manusia lupa, bahwa dulunya, mereka hanyalah spesies yang bersembunyi
di semak-belukar, menunggu makanan sisa dari buruan serigala, sialnya begitu
hendak keluar mengambil sisa-sisa tersebut, segerombolan anjing menghentikannya,
mereka pun harus kembali bersabar, menunggu sisa-sisa anjing, dan akhirnya harus
rela menerima, memakan sum-sum yang ada di dalam tulang yang tersisa.
Nalar,
dalam catatan panjang sejarah memang lebih sering tampil sebagai alat untuk
menjinakkan, memperluas kekuasaan, menjajah, menciptakan senjata untuk
memusnahkan, meneguhkan prestise. Nalar selalu haus pengakuan dan kekuasaan,
tak pernah berhasil mengantar manusia kepada kebahagiaan hakiki.
Maka,
apa yang tersurat dalam perjalanan teologis Ibrahim sebagai kekasih Tuhan dan nabi
yang dinilai paling rasional (sejarahnya tak mampu didebat oleh Namrud), pada proses
akhir perjalanan pencariannya tentang Tuhan, ia pun harus mengakui keterbatasan
nalarnya. Menjadi iktibar bahwa tiada guna mengagulkan dan mengagungkan nalar
secara berlebihan, terlebih secara jumawa mengatakan: semua masalah selesai
dengan nalar. (*)
____________
Data
Buku
Judul: Batas Nalar: Rasionalitas Dan Perilaku
Manusia | Penulis: Donald B. Calne | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia | Jumlah
Hala,am: xvi + 458 hlm. | ISBN: 9799100216

Posting Komentar